“Goblok kamu itu! Mau jadi apa kamu? Kamu kok mau dibohongi oleh
orang-orang pintar itu? Tidak mungkin kamu bisa kembali lagi ke Jawa. Bagaimana
masa depanmu? Kalau hanya mendapat makan, untuk apa? Apa yang dibanggakan? ”
Kudengarkan saja kata-kata yang meluncur pedas dari seorang wanita di seberang
sana. Kalimat-kalimat yang terucap di sela-sela tangisnya membuat hatiku pilu. Aku
kuatkan hatiku. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Aku hanya berkata dalam
hati, “Roh Kudus, bantu aku...”
Sebenarnya aku sudah bisa menduga bahwa wanita itu akan bereaksi seperti
itu. Tapi untuk sekali lagi aku nekad menyampaikan maksud hatiku kepadanya,
karena aku berharap kali ini akan ada akhir yang berbeda dan akan ada jawaban “YA” terucap secara ikhlas dari bibirnya
untuk mengantar kepergian diriku - yang mencoba untuk mencari kehidupan yang
lebih bermakna.
Namun apa yang kudapat? Untuk kesekian kalinya harapanku pupus. Pikiran-pikiran
negatif yang memenuhi pikiran wanita - yang selalu membuat air mataku menetes
saat mengingatnya - itu membuat segala yang kuucapkan tak sampai menyentuh
hatinya. Segala penjelasanku yang kuharapkan bisa membuat hatinya luluh
ternyata langsung menguap sebelum sempat masuk ke sela-sela ruang hatinya.
Beberapa menit berlalu. Tak terdengar suara. Tak kudengar isak tangis. Tak
ada kata-kata. Hanya hening. Membisu... Akhirnya pembicaraan di telepon pun
diakhiri tanpa ada kesepakatan diantara kami. Tanpa restu yang sangat kunanti-nantikan...
***
Seseorang pernah berkata kepadaku, “Bersandarlah pada kehendak Allah dan jangan memaksa.”
Ya, benar! Kurasa hanya ini yang bisa kulakukan saat ini. Jika Ia memang menghendaki
aku untuk pergi menyeberangi lautan itu, maka aku akan pergi, entah
bagaimanapun caranya.
Aku tahu. Aku mengerti. Semuanya ini harus terjadi karena ia, wanita itu,
tidak mengenal Dia. Sehingga ia pun tidak bisa memahami jalan pikiran dan pilihan hidupku.
Dimatanya aku adalah seorang pemberontak.
Ya Allahku, sungguh berat perjalanan untuk mengikutiMu. Ajari aku untuk selalu
bersandar pada penyelenggaraan IlahiMu. Berikanlah aku kekuatan untuk tekun dan
setia sampai akhir perjalanan ini. Amien.
~ Surabaya, 23 Oktober 2011 ~
Amin. Km sungguh2 adalah anak pilihan Tuhan yg berkarya demi kemuliaan namaNya. Tiada jalan yg mulus dlm mengikut Tuhan. Tp cintamu padaNya semua akan terbayar pada akhirnya. Terus berjuang Luciele. Terus berkarya, terus menulis. Inspirasikan banyak org dgn perjalanan hdpmu. Hope I can be your friend. Tetap semangat ya. Tuhan selalu berjalan bersamamu.
BalasHapusAmin... Semoga Tuhan juga senantiasa mengiringi langkah Wita...
HapusI will be glad to be your friend :)
Terima kasih Luciele :-) Nanti kl ada yg request fb atas nama dewita tlg di approve ya.
BalasHapus