Laman

Sabtu, 11 April 2015

Puncak B-29 (sebuah perjalanan, perjuangan, dan refleksi)




Waktu menunjukkan pukul 03.15 ketika mulai kulangkahkan kakiku dengan pasti di tengah kegelapan dan udara yang dingin. Semangat yang menggebu dan keinginan untuk segera sampai di tujuan menjadi penggerak bagi ayunan langkahku. Seorang teman yang semula berjalan berdampingan denganku mulai tertinggal, dan beberapa teman yang semula berjalan di depanku satu persatu aku salip. Harapanku hanya satu, tidak terlambat untuk sampai di tujuan.

Namun semua berlangsung tak begitu lama. Dalam hitungan menit, langkahku mulai terasa berat dalam meniti jalanan yang terus menanjak. Suara nafas yang memburu memecah kesunyian dini hari itu. Detak jantung terasa semakin cepat dan paru-paru mau pecah rasanya. Langkah tegas yang semula terayun mulai kehilangan energinya. Aku bergerak semakin melambat.


Beberapa kali aku harus berhenti untuk mengatur nafas. Bahkan perut mulai terasa mual dan aku pun muntah-muntah. Badan pun mulai terasa limbung. Melihat kondisiku, teman-teman beberapa kali menawarkan kepadaku agar naik ojek saja - seperti halnya yang dilakukan oleh beberapa orang teman - kalau aku sudah tidak kuat lagi berjalan, mengingat perjalanan yang harus ditempuh masih sangat jauh. Namun aku selalu menolak. Aku ingin berhasil berjalan sampai puncak! Maka dengan terseok-seok pun aku berusaha untuk terus berjalan.

Beberapa teman menemaniku berjalan. Ada yang memberikan minuman. Ada yang memberikan kue untuk mengisi perut. Ada yang memberikan minyak kayu putih. Ada yang membawakan tas ranselku untuk mengurangi bebanku. Ada yang menggoda untuk menghiburku. Ada yang menerangi jalan di hadapanku dengan lampu senter yang dibawanya.

Aku merasa sudah berjalan begitu lama, namun tujuan belum juga terlihat. Energi semakin lama semakin terkuras. Kurang tidur selama beberapa hari sebelumnya semakin memperparah kondisiku. Aku mulai berjalan sempoyongan dan beberapa kali hampir jatuh. Jalanan yang kami lalui pun semakin lama semakin tidak bagus kondisinya. Mulai dari jalan berpaving/semen, berbatu, berkerikil, tanah keras, sampai berlumpur dan licin akibat hujan sebelumnya harus kami lewati untuk dapat mencapai puncak. Beberapa kali aku harus menggandeng tangan teman yang menemaniku berjalan agar tidak jatuh atau terpeleset. Adalah suatu kegembiraan tak terkira melihat medan yang datar meski hanya beberapa meter. Begitu pula saat melihat tempat duduk di tepi jalan meski hanya terbuat dari bambu seadanya. Aku berjalan melebihi batas waktu normal. Mungkin karena aku berjalan sangat lambat dan harus berkali-kali berhenti untuk beristirahat. Untung saja teman-teman sangat telaten menunggui dan menemaniku.

Hari sudah menjelang pagi dan kami baru setengah perjalanan. Harapan untuk bisa melihat matahari terbit dari puncak pupus sudah. Kami terlambat! Akhirnya kami memutuskan untuk menyaksikan matahari terbit dan beristirahat sambil berfoto-foto di portal masuk menuju puncak. Saat sampai di portal, aku merasa hampir pingsan saja. Aku tak sanggup berdiri sendiri. Aku pun berpegangan dan bersandar pada bahu seorang teman agar tidak terjatuh. Di kala teman-teman yang lain antusias untuk berfoto ria, aku merasa begitu lemas dan tak bergairah.

PERJALANAN BELUM USAI!
Masih ada setengah perjalanan lagi yang harus kami tempuh untuk mencapak puncak. Oh tidak! Aku merasa begitu menderita. Beberapa kali aku mengeluh kenapa kami belum juga sampai di puncak. Beberapa teman menyemangati bahwa kurang sedikit lagi, meski toh masih sangat jauh sebenarnya.

Matahari sudah muncul sepenuhnya. Jalanan setapak menuju puncak semakin ramai oleh pengunjung yang naik ojek. Nampaknya hanya rombongan kami yang memilih untuk berjalan kaki. Beberapa tukang ojek terus menawarkan kepada kami untuk naik ojek karena perjalanan masih jauh. Namun aku bersikeras untuk tetap meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki bersama teman-teman.

Setengah perjalanan kali ini pun tidak mudah. Saat melewati jalan setapak yang rusak dan cukup sempit dengan jurang di salah satu sisinya, sering kami harus berhenti untuk memberi jalan kepada ojek-ojek yang hilir mudik. Jika tidak, kami bisa dengan mudahnya tertabrak atau terserempet. Sekali terjadi padaku, aku tersenggol ojek yang lewat karena aku terlambat untuk berpindah jalur. Nyaris saja aku terdorong masuk ke dalam jurang karena aku berdiri hanya beberapa sentimeter dari tepi jurang.    

PUNCAK SUDAH NAMPAK!
Matahari sudah semakin terik bersinar ketika puncak sudah nampak. Dari bawah nampak tenda berwarna-warni milik para pengunjung yang berkemah di puncak.  Lega rasanya. Namun tak lama kemudian aku mulai shock melihat kemiringan 45 derajat jalanan yang ada di depanku yang harus dilalui untuk mencapai puncak. Sebenarnya ada jalan alternatif yang lebih landai namun harus jauh memutar. Aku tidak sanggup lagi rasanya untuk menempuh jalan kedua. Namun untuk menempuh jalan pintas aku takut.

Akhirnya seorang teman mendorongku agar aku lebih mudah naik, dan seorang teman yang lain menarik dari atas. Kurang beberapa langkah lagi untuk sampai puncak namun aku berhenti sejenak untuk mengatur nafas dan membungkuk untuk meregangkan otot pinggul yang terasa sakit. Tak lama kemudian seorang teman mendorongku dari belakang sampai puncak. Dan akhirnya AKU BERHASIL SAMPAI PUNCAK! Ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan kegembiraan yang luar biasa saat itu, namun karena ramai pengunjung maka aku mengurungkan niatku. Keberhasilan menyelesaikan perjalanan hingga sampai puncak menimbulkan suatu sensasi tersendiri yang tak terkatakan.

Akhirnya kami bersama-sama menikmati pemandangan indah yang terlihat dari puncak dan mengabadikannya. Ketika dirasa sudah cukup, kami pun mengisi perut dengan makan gorengan dan minum minuman panas yang tersedia di warung yang ada di puncak.

PERJUANGAN BELUM BERAKHIR!
Waktu menunjukkan pukul 09.15 saat kami memutuskan untuk turun dari puncak. Beberapa teman menawarkan kepadaku untuk naik ojek tapi aku kembali menolak. Kesenangan sesaat di puncak berganti menjadi ‘penderitaan’. Perjuangan yang tak kalah beratnya bagiku untuk melakukan perjalanan turun menuju parkiran mobil. Rasa lelah dan sakit yang tersisa akibat perjalanan berangkat harus ditambah lagi dengan rasa lelah dan sakit yang muncul dalam sepanjang perjalanan pulang.

Jalanan yang menurun membuat kedua pergelangan kaki dan kedua jempol kakiku menjadi sakit akibat menahan berat tubuh dan bergesekan dengan sandal gunung yang kupakai. Kaos kaki tebal yang membalut kakiku hanya dapat mencegah dari lecet, namun tetap terasa sakit yang luar biasa.

Di tengah teriknya sengatan sinar matahari, aku berjalan terseok-seok, tertatih-tatih, kadang terpeleset, dan berulang kali harus berhenti untuk membungkukkan badan untuk melemaskan otot pinggul, pantat, dan sekujur kakiku yang sakit. Pada jalanan yang berkerikil dan licin, aku menggandeng tangan teman yang berjalan di dekatku karena takut tergelincir. Berkali-kali aku mengeluh kepadanya.

Rasa sakit yang terasa semakin tak tertahankan dan tujuan (tempat parkir mobil) yang tak kunjung terlihat membuat aku mulai putus asa dan beberapa kali berpikir untuk naik ojek saja karena tak sanggup lagi meneruskan berjalan kaki. Namun beberapa kali pula kuurungkan niatku. Selain aku ingin berhasil berjalan kaki sampai tujuan, aku juga takut untuk naik ojek. Hal ini dikarenakan medan yang dilewati mirip medan rally motor. Tak jarang aku melihat ojek-ojek itu susah payah melewati jalanan yang rusak dan hampir terjatuh. Bahkan beberapa ojek melintas hanya beberapa sentimeter dari bibir jurang. Beberapa kali aku sampai histeris sendiri melihatnya. Lebih baik aku berjalan kaki saja meski lama tapi aman daripada terjatuh dari motor atau terjatuh ke dalam jurang. Itulah pertimbanganku.    

Aku berjalan semakin lambat, semakin sering berhenti untuk beristirahat, dan akhirnya mulai tertinggal. Teman-teman yang semula berjalan bersama-sama denganku, semakin tersisa sedikit karena mereka sudah berjalan di depan. Jarak diantara kami pun semakin menjauh dan akhirnya mereka tak terlihat lagi oleh pandangan mataku.   

Perlahan tapi pasti tetap kuayunkan langkahku. Penantian yang terasa sangat panjaaaaaannggg kurasakan. Hingga akhirnya aku melihat 2 mobil yang membawa kami nampak beberapa ratus meter di depanku. Aku girang tak karuan. Ketika sampai di tujuan, sebagian besar teman-teman sudah duduk beristirahat di teras sebuah rumah penduduk. Ketika aku sampai mereka pun bersorak menyambutku. Aku berhasil!!!

***

Keberhasilan menempuh perjalanan ke puncak B-29 pada hari itu, 22 Maret 2015, merupakan suatu kebanggaan bagiku. Pengalaman pertama dan takkan terlupakan. Bagiku, perjalanan menaklukkan bukit setinggi 2900 mdpl itu bukan sekedar sebuah perjalanan biasa, melainkan sebuah perjuangan yang sarat akan refleksi.

Di sepanjang perjalanan, aku sempat merefleksikan makna perjalanan yang sedang kutempuh. Bagiku, perjalanan itu seperti halnya perjalanan dan perjuangan hidup. Jalanan adalah jalan hidup. Berjalan kaki adalah usaha normal yang dilakukan dalam mencapai tujuan. Naik ojek adalah jalan pintas yang dilakukan dalam mencapai tujuan. Puncak B-29 dan tempat parkir adalah tujuan hidup. Teman-teman seperjalanan adalah teman-teman di sekeliling kita. Para pengunjung yang lain adalah orang-orang di sekitar kita. Kue, minuman, minyak kayu putih, dan penerangan adalah perhatian dari orang lain.     

Ada kalanya perjalanan hidup kita terasa mudah karena jalannya datar dan rata, namun tak jarang kita harus melewati jalan menanjak yang membuat kita ‘ngos-ngosan’ dan merasa lelah dengan hidup ini. Tak jarang jalan hidup kita juga berkerikil atau berbatu yang membuat kita tergelincir dan tersandung, atau jalan berlumpur yang membuat kita terpeleset dan terperosok.

Mungkin seringkali kita merasa tujuan hidup kita tidak juga terlihat dan tercapai. Kita sudah melakukan segala usaha untuk meraihnya, namun penantian tak kunjung berakhir. Pada akhirnya kita merasa putus asa dan ingin berhenti saja, kembali, atau menempuh jalan pintas.

Dalam perjalanan hidup kita ada kalanya kita merasa mampu dan bersemangat untuk berjalan dengan cepat. Namun ada kalanya saat semuanya terasa begitu berat dan melelahkan, kita harus berhenti sejenak untuk mengatur ritme nafas dan memulihkan energi. Dan dalam perjuangan hidup kita itu, kita senantiasa membutuhkan kehadiran orang lain. Disaat kita lelah, kita membutuhkan teman yang rela diajak berbagi beban untuk meringankan beban kita, juga memberikan perhatian-perhatian sederhana namun sangat berarti. Disaat kita putus asa, kita membutuhkan teman yang senantiasa menghibur, memberi semangat, dan menguatkan. Disaat kita tak sanggup lagi berjalan, kita membutuhkan teman yang menarik dan mendorong kita untuk terus maju. Disaat kita tak sanggup berdiri sendiri dan hampir terjatuh, kita membutuhkan teman yang menggandeng dan menjadi tempat kita bersandar.   

Ada kalanya kita melihat orang-orang di sekitar kita dapat dengan mudahnya mencapai tujuan yang diinginkan, namun tidak halnya dengan kita. Kita harus jatuh bangun berkali-kali. Bahkan mungkin banyak orang-orang di sekeliling kita yang menggunakan jalan pintas untuk meraih tujuan, dan seringkali kita mempertimbangkan untuk melakukan hal yang sama. Bisa jadi beberapa dari kita tergoda untuk melakukannya dengan harapan segera meraih yang diharapkan, namun ada juga yang tidak tergoda karena takut dengan segala konsekuensinya yang lebih buruk. Ada kalanya kita berada di depan teman-teman kita, namun pada akhirnya kita tersalip dan tertinggal jauh di belakang mereka.

***

Pemandangan di sepanjang perjalanan menuju puncak B-29 sangatlah indah. Namun karena aku fokus dengan sulitnya perjalananku, aku jadi tidak menyadari dan tidak menikmatinya. Aku terlalu sibuk merasakan rasa lelah dan sakit yang kurasakan. Aku terlalu sibuk mengeluh dan melihat ke depan untuk mencari-cari keberadaan puncak. Aku terlalu sibuk menunduk untuk memperhatikan langkah kakiku sendiri dan jalanan yang harus aku lalui. Aku menyesal terlambat menyadarinya dan telah melewatkan banyak momen indah itu.

Demikian halnya dengan hidupku selama ini. Disaat perjalanan hidup kurasakan semakin berat dan aku tak juga menemukan tujuan hidupku, aku hanya berfokus pada pergulatan, kesedihan, keputusasaan, dan segala hal yang tidak mengenakkan yang kurasakan. Aku kurang bisa menyadari, menikmati, dan mensyukuri segala hal baik dan indah yang dianugerahkan Tuhan kepadaku. Kesehatan yang baik, tempat tinggal yang nyaman, pekerjaan yang layak, keluarga yang menyayangi, teman-teman yang baik, segala kenyamanan dan kemudahan fasilitas yang kumiliki, perjalanan dan pengalaman seru dan menyenangkan bersama teman-teman, dan masih banyak lagi. Sesungguhnya aku sangat beruntung dapat menikmati semua itu sementara ada orang-orang yang tidak bisa menikmatinya.

Beberapa waktu terakhir ini, aku mengalami perjalanan yang sangat berat dalam pekerjaanku. Aku tidak tahu apakah aku akan dapat bertahan dan berhasil mencapai garis finish dengan selamat seperti halnya perjalanan dan perjuanganku ke puncak B-29. Namun satu hal yang pasti, aku merasakan penyertaan Tuhan melalui orang-orang  di sekelilingku yang terus menemani, membantu, menghibur, menyemangati, dan mendorongku disaat aku merasa tak sanggup lagi untuk bertahan. Seandainya pun aku tidak berhasil memenangkan ‘peperangan’ ini, aku tetap bersyukur memiliki teman-teman seperjalanan yang menemaniku dalam perjuangan. Memang tidak mudah, namun aku berusaha mengingatkan diriku sendiri akan pengalaman perjalanan ke puncak B-29 dan berusaha senantiasa ‘menyadari, melihat, menikmati, dan mensyukuri pemandangan indah yang terhampar di sepanjang perjalananku menuju puncak’.


(Tulisan ini kupersembahkan untuk orang-orang yang telah setia menjadi teman seperjalananku).

** Surabaya, 11 April 2015 **



Tidak ada komentar:

Posting Komentar