Laman

Senin, 27 Februari 2017

Hanya 4 Jam Tersisa



Kamis, 6 Oktober 2016 adalah hari dimana sejak saat itu hidupku mengalami perubahan yang cukup drastis.

Pada hari itu, sekitar pukul 09.00, papa meneleponku dan mengatakan, “Jangan kaget ya… Mama sakit”. Papa mengatakan kalau mama sakit maag dan mau segera dibawa ke rumah sakit. Setelah mendengar kabar mengejutkan itu, aku dikatakan panik juga tidak tapi dikatakan tidak panik sebenarnya juga tidak. Bingung mendeskripsikan perasaanku saat itu. Mungkin aku tidak terlalu panik karena aku tahu selama ini mama tidak pernah sakit sehingga aku merasa mama pasti akan baik-baik saja.

Aku sempat bingung memutuskan harus pulang ke Lumajang atau tidak. Perlukah aku segera pulang dan menengok mama? Awalnya aku bermaksud menunggu hasil diagnosa dokter terlebih dahulu. Jika memang mama hanya sakit maag biasa dan tidak perlu rawat inap maka aku tidak perlu untuk segera pulang karena saat itu aku masih dalam posisi bekerja di kantor. Tapi sampai agak siang belum juga ada kepastian mengenai apa penyakit mama. Akhirnya aku pun memutuskan untuk ijin pulang lebih awal dari kantor dan pulang ke Lumajang naik travel pukul 15.00.

Rombongan travel sedang berhenti untuk makan malam di sebuah rumah makan di daerah Tongas ketika adik perempuan mamaku meneleponku dan mengatakan bahwa malam ini mama akan segera dipindahkan ke rumah sakit RKZ di Surabaya memakai mobil ambulans karena terlalu lama menunggu hasil diagnosa dokter sedangkan kondisi mama makin lemah. Sekitar pukul 20.00 aku sampai di rumah sakit dan tak lama kemudian tanpa sempat beristirahat sama sekali aku pun berangkat lagi ke Surabaya mengantar mama dengan ditemani oleh papa dan 2 orang perawat.

Di sepanjang perjalanan mama mengeluh kesakitan sehingga aku sibuk meladeni mama yang minta diolesi minyak di dahinya karena merasa pusing, minta dipijat lengannya karena sakit semua, memberikan minum dan membesarkan hati mama bahwa kami akan segera tiba di rumah sakit RKZ  dan mama akan merasa lebih baikan setelah ditangani disana. Aku terus menggenggam jemari tangan mamaku. Sopir ambulans awalnya tidak berani tancap gas karena mama selalu berteriak kesakitan saat terkena goncangan. Namun setelah aku meminta persetujuan mama dan meminta mama untuk menahan rasa sakit akibat goncangan, aku pun meminta sopir ambulans untuk membunyikan sirine dan melaju dengan cepat agar kami bisa segera sampai di RKZ dan mama segera mendapatkan penanganan.

Sekitar pukul 01.00 dini hari (Hari Jum’at) kami tiba di RKZ. Mama segera ditangani di UGD. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan dan mengurus proses administrasi, sekitar pukul 03.30 mama pun dipindahkan ke kamar perawatan. Waktu terus berjalan dan mentari mulai menunjukkan wajahnya. Aku meminta ijin ke mama untuk keluar kamar dan membaringkan tubuh sejenak di bangku kayu di teras paviliun. Tubuh begitu lelah dan mata mengantuk karena tidak tidur sama sekali tapi aku tidak berhasil terlelap barang sedetik pun. Akhirnya dengan badan yang rasanya melayang-layang aku pun memutuskan untuk mandi. Berharap badan akan terasa lebih segar.

Sekitar pukul 07.00 dokter penyakit dalam yang sudah kami pilih pun datang memeriksa kondisi mama. Setelah melihat kondisi mama yang tidak bagus, dokter meminta mama menjalani beberapa pemeriksaan laboratorium berikut USG dan mengharuskan seorang dokter bedah untuk turut menangani mama karena kemungkinannya ada kebocoran di usus atau organ dalam yang lain.

Agak siang, dokter bedah yang ditunjuk pun datang. Setelah memeriksa kondisi mama, dokter bedah memanggil aku dan kakak perempuanku. Dokter mengatakan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium & USG mama menunjukkan ada pengerasan liver dan terjadi infeksi akibat kebocoran organ dalam yang lain. Harus segera dioperasi untuk mengetahui lebih lanjut dimana kebocorannya dan untuk membersihkan cairan nanah yang sudah memenuhi rongga perut mama agar infeksi tidak menyebar. Namun dokter tidak bisa menjamin keselamatan mama pasca operasi karena operasi yang dilakukan adalah operasi besar dan berdasarkan pengalaman selama ini untuk kasus serupa pasien tidak dapat bertahan. Mengenai waktu operasi, dokter akan memutuskan setelah hasil pemeriksaan laboratorium lanjutan. Kami berdua seperti disambar petir di siang bolong mendengar berita itu dan segera saja kami berdua bercucuran air mata saat mendengarkan penjelasan dokter.

Sekitar pukul 15.00, dokter bedah memanggil kami berdua lagi. Dokter mengatakan operasi harus dilakukan malam itu juga pada pukul 20.00, tidak bisa ditunda-tunda lagi karena terlalu berbahaya. Kami harus mengambil keputusan yang sulit tanpa ada kesempatan berpikir panjang. Jika mama tidak dioperasi maka infeksi akan makin menyebar dan kondisi mama akan makin memburuk. Jika mama dioperasi maka kami harus siap kehilangan mama karena kemungkinan kesembuhan pasca operasi yang sangat kecil.

Berbekal keinginan melakukan usaha yang terbaik untuk mama dan berbekal sedikit harapan bahwa siapa tahu Tuhan berkenan melakukan mukjizat atas diri mama, maka setelah memohon persetujuan dari keluarga besar, kami pun menandatangani berkas-berkas persetujuan tindakan operasi dan menyelesaikan proses administrasi.

Hanya 4 jam tersisa.
Aku memiliki kesempatan terakhir berbincang-bincang dan menikmati kebersamaan dengan mama saat mama masih dalam keadaan sadar hanya selama 4 jam saja sebelum mama dioperasi dan selanjutnya entah apa yang akan terjadi. Aku memanfaatkan waktu selama 4 jam itu untuk sebisa mungkin berada di sisi mama. Aku mengipasi mama yang terus merasa kegerahan serta memijati lengan dan kaki mama. Aku juga membisikkan doa-doa Bapa Kami, Salam Maria dan Kemuliaan di telinga mama meski mama tidak memeluk agama apapun selama ini. Hanya 3 doa itu saja yang terbersit dalam benakku. Aku tidak tahu lagi bagaimana harus berdoa karena hati dan pikiranku kacau balau. Bersyukur mama mengijinkan aku mendaraskan doa-doa itu. Sungguh aku berharap mama pun mengikuti berdoa dalam hati sehingga jiwanya menemukan jalan jika kemungkinan terburuk yang terjadi. Aku pun mengelus-elus kepala mama, mencium keningnya, memeluknya dan membisikkan bahwa aku menyayanginya. Hal-hal yang tidak pernah kulakukan selama ini terhadap mama.

Tiada terdengar lagi suaranya.
Sabtu, 8 Oktober 2016, sekitar pukul 08.00 aku tiba di rumah sakit dan segera masuk ke ruang ICU untuk menemui mama untuk pertama kalinya setelah mama selesai dioperasi. Melihat tubuh mama sudah dipasangi berbagai macam selang yang terhubung ke alat bantu, aku hanya bisa memanggil-manggil mama sambil bercucuran air mata. Tidak ada kata-kata lain yang dapat terucap dari mulutku. Begitu juga mama. Mama tidak lagi dapat berbicara karena selang alat bantu pernapasan yang dipasang di mulut mama. Ternyata selain 4 jam terakhir, jam-jam sebelum operasi adalah saat-saat terakhir aku mendengarkan suara mama.

Pasca operasi mama harus dirawat di ICU sampai kondisi benar-benar stabil. Antibiotik dosis tinggi terus dimasukkan kedalam tubuh mama untuk memerangi infeksi yang sudah menyebar ke seluruh tubuh. Kata dokter, kondisi mama cukup stabil (dalam artian masih sadar dan bisa merespon saat diajak berkomunikasi) hanya karena bantuan obat-obatan.

Minggu, 9 Oktober 2016, sekitar pukul 05.30 aku mengantarkan obat-obatan yang diminta oleh perawat ke dalam ruang ICU. Perawat memintaku untuk banyak berdoa karena kondisi mama menurun dan koma.  Keluarga besar mulai berdatangan. Mulai sekitar pukul 08.00 denyut jantung mama beberapa kali berhenti dan harus dilakukan pijat jantung. Perawat dan keluarga besar menyarankan untuk tidak terus melakukan pijat jantung karena tindakan itu hanya bisa mengulur-ulur waktu kematian mama. Namun aku bersikeras meminta seorang imam mendoakan mama terlebih dahulu untuk mengantar kepergian mama dan sementara itu aku meminta pijat jantung tetap dilakukan sampai mama selesai didoakan. Aku mengusahakan mencari seorang imam maupun suster untuk mendoakan mama yang sedang menghadapi sakratul maut tapi semuanya berhalangan. Akhirnya keluarga memutuskan untuk mengikhlaskan mama pergi.

Kesempatan yang tak dimanfaatkan
Sebulan sebelum kepergian mama untuk selama-lamanya, mama menghampiriku yang sedang berbaring diatas kasur dan ikut berbaring disampingku. Saat itu sebenarnya ada suara dalam hatiku yang menyuruhku untuk bercerita banyak dengan mama mumpung ada kesempatan. Tapi aku mengabaikannya karena merasa yakin akan ada kesempatan lain. Akhirnya aku lebih memilih untuk sibuk dengan smartphone yang ada di genggamanku dan kurang mempedulikan mama.

Selama ini aku tidak pernah ada kedekatan dan kehangatan dengan kedua orang tuaku. Tidak banyak komunikasi yang terjalin meski aku sedang berada di rumah bersama mereka. Menyadari akan hal itu, setiap kali aku berdoa, aku selalu memohon kepada Tuhan agar memberikanku kesempatan untuk lebih menjalin kedekatan dengan kedua orang tuaku sehingga aku tidak menyesal kelak.

Sesungguhnya kesempatan itu seringkali diberikan oleh Tuhan kepadaku namun selalu kulewatkan, seperti halnya yang terjadi sebulan yang lalu, yang ternyata merupakan kesempatan terakhir. Aku selalu merasa yakin akan ada kesempatan selanjutnya. Tapi ternyata tidak untuk kali ini. Semua terjadi begitu cepat. Dalam waktu 4 hari mama direnggut dari hidupku. Begitu pula dengan kesempatanku.

Hanya 4 jam tersisa… Selebihnya hanyalah penyesalan…


Surabaya, 27 Pebruari 2017









6 komentar:

  1. Piglet, aku sedih banget baca tulisanmu. Mengingatkan aku juga untuk lebih memperhatikan papa mama ku. Thx mau berbagi ceritamu. Bighug

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pooh sayang, jangan melewatkan kesempatan yg ada karena kita tidak pernah tahu apakah kesempatan itu akan datang lagi atau tidak... bighug juga buat kamu... muah muah...

      Hapus
  2. Makcok...aq jg gt klo mama crita pnjang lbar aq umek sm hp :( mkasi sdh diingatkan lwat critamu...

    BalasHapus
  3. Terpenting dari semua itu bagaimana kita selalu mendoakan mereka yang kita kasihi yang telah mendahului kita. Sebab seperti yang mba Lea katakan bahwa "lilin (kecil)" dapat menerangi kegelapan. Sementara "doa" yang kita panjatkan dapat menuntun dan menghantarkan mereka ke kehidupan abadi bersama Allah Bapa di surga. Sebab saya pribadi, setiap kali sebelum perayaan ekaristi dimulai secara khusus saya mendoakan ke dua orang-tua dan semua orang yang telah meninggal. Jadi, kesempatan pertama boleh saja berlalu. Tapi khan masih ada kesempatan berikutnya dengan cara selalu mendoakan mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali... Terima kasih sharingnya :) God bless...

      Hapus