Laman

Rabu, 19 Oktober 2011

Perlukah mengaku dosa?

Mrk 2 : 1 - 12 (Orang lumpuh disembuhkan)

(5) Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anakKu, dosamu sudah diampuni!”

Dalam perenungan saya, orang lumpuh dalam perikop Mrk 2 : 1 – 12 menggambarkan manusia yang ‘lumpuh’ karena dosa-dosa yang sudah dilakukan. Orang yang lumpuh adalah orang yang tidak dapat berbuat apa-apa, tidak dapat melakukan aktivitas secara mandiri, tidak dapat menolong dirinya sendiri dan yang pasti orang lumpuh membutuhkan belas kasihan dan pertolongan orang lain untuk kelangsungan hidupnya. Demikian halnya dengan kita yang telah berdosa, butuh belas kasihan dan pertolongan Allah untuk membebaskan kita dari jerat dosa agar kita dapat mempunyai hidup yang berkenan di mata Allah.      

Saat saya semakin sering jatuh dalam dosa, saya merasa kehidupan rohani saya menjadi ‘lumpuh’. Saya begitu kecewa pada diri saya yang sudah membiarkan diri saya bernegosisasi dengan iblis sehingga saya jatuh dalam dosa berulang kali.
Karena begitu kecewanya, biasanya hal ini mempengaruhi kehidupan rohani saya. Kehidupan doa saya menjadi kacau dan saya menjadi tidak bersemangat dan tidak nyaman dalam menjalani hari-hari saya. Saya merasa gagal. Iman saya menjadi semakin lemah dan saya semakin lebih sering lagi berbuat dosa. Biasanya saya membebaskan diri saya dari belenggu tersebut dengan melakukan pengakuan dosa. Saya percaya dengan melakukan pengakuan dosa - melalui imam yang sudah diberi kuasa oleh Yesus sendiri untuk mengampuni dosa - Allah mengampuni dosa-dosa saya dan saya akan disembuhkan dari ‘kelumpuhan’ saya.

Saya mempunyai suatu pengalaman yang begitu berkesan dan semakin menguatkan kepercayaan saya bahwa Tuhan Yesus sungguh hadir mengampuni saya dalam diri imam yang memberikan Sakramen Rekonsiliasi. Tahun lalu saya mengikuti pengakuan dosa menjelang Paskah di paroki saya. Seperti biasa, pada saat antri menunggu giliran, saya selalu mengalami kegelisahan dan grogi. Sejujurnya saya merasa malu dengan dosa-dosa yang hendak saya akukan, namun saya bertekad untuk mengaku dosa karena saya sangat membutuhkan ‘kesembuhan’. Saya berdoa memohon bimbingan Roh Kudus agar saya berani mengaku dosa secara jujur.

Akhirnya tiba giliran saya dan saya mengabaikan rasa malu saya. Hal yang belum pernah saya alami sebelumnya terjadi ketika imam mengucapkan kalimat absolusi. Tepat pada saat imam berkata “Dengan perantaraan Gereja Kudus Tuhan kita Yesus Kristus melimpahi engkau dengan pengampunan dan damai, maka aku melepaskan engkau dari segala dosa…Bapa, Putra, Roh Kudus” saya merasakan suatu aliran hangat dari ujung kepala turun ke bagian belakang tubuh saya. Seperti ada perasaan merinding. Setelah selesai mengaku dosa, saya merasakan damai dan sukacita yang begitu luar biasa. Saya sangat bersyukur kepada Allah yang sudah membebaskan saya dari beban dosa dan memberikan bonus berupa pengalaman yang begitu luar biasa.

Dalam perikop diatas kita dapati bahwa proses orang lumpuh itu menjadi sembuh diawali dengan Yesus yang mengucapkan “Hai anakKu, dosamu sudah diampuni!” (ayat 5). Selanjutnya baru Yesus berkata “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (ayat 11) Dan orang lumpuh itupun menjadi sembuh. Hal ini menggambarkan bahwa pengampunan yang diberikan Yesus membawa kesembuhan. Seperti halnya kita yang ‘lumpuh’ akibat dosa, setelah bertobat dan melakukan pengakuan dosa maka kita juga mengalami ‘kesembuhan’. Relasi kita dengan Allah dan sesama dipulihkan. Batin kita pun tidak menderita lagi. Hal ini terbukti dengan adanya perasaan lega, damai, dan sukacita yang kita rasakan setelah kita melakukan pengakuan dosa.

Saya percaya bahwa aliran hangat yang saya rasakan saat imam mengucapkan kalimat absolusi adalah suatu tanda nyata bahwa Yesus sungguh hadir dalam diri imamNya untuk mengampuni dosa saya. Saya percaya, saat itu Yesus sudah berkata pada saya melalui imamNya “Hai anakKu, dosamu sudah diampuni!” Setelah mengaku dosa, saya merasakan kehidupan saya menjadi pulih kembali.   

Apakah ada diantara anda sekalian yang merasa ‘lumpuh’ akibat dosa? Janganlah ragu untuk datang ke ruang pengakuan dosa untuk mendapatkan ‘kesembuhan’. Karena disana Yesus sudah menanti anda untuk memberikan pengampunan melalui perantaraan imam yang sudah diberi kuasa olehNya untuk membebaskan kita dari dosa.   


(Tulisan ini merupakan salah satu Tugas Renungan dalam Kelas KP3I yang saya ikuti di Paroki St. Vincentius a Paulo, Surabaya)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar